Peristiwa
proklamasi 1945 membawa perubahan yang bagi masyarakat Indonesia, dan
sekaligus
menempatkannya pada situasi krisis jati diri. Krisis ini terjadi karena
Indonesia
sebagai sebuah
negara belum memiliki perangkat sosial, hukum, dan tradisi yang mapan.
Situasi itu
menjadi ‘bahan bakar’ bagi upaya-upaya pembangunan karakter bangsa di tahun
50-an dan 60-an.
Di awal 70-an, ketika kepemimpinan soeharto, orientasi pembangunan
bangsa digeser
ke arah ekonomi, sementara proses – proses yang dirintis sejak tahun 50-an
belum mencapai
tingkat kematangan.
Dalam
latar belakang sosial demikianlah telekomunikasi dan informasi, mulai dari
radio, telegrap,
dan telepon, televisi, satelit telekomunikasi, hingga ke internet dan perangkat
multimedia
tampil dan berkembang di Indonesia. Perkembangan telematika penulis dibagi
menjadi 2 masa
yaitu masa sebelum atau pra satelit dan masa satelit.
a) Masa
Pra-Satelit
·
Radio dan Telepon
Di
periode pra satelit (sebelum tahun 1976), perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia masih terbatas pada
bidang telepon dan radio. Radio Republik Indonesia (RRI) lahir dengan di dorong oleh
kebutuhan yang mendesak akan adanya alat
perjuangan
di masa revolusi kemerdekaan tahun 1945, dengan menggunakan perangkat keras seadanya. Dalam
situasi demikian ini para pendiri RRI
melangsungkan
pertemuan pada tanggal 11 September 1945 untuk merumuskan jati diri keberadaan RRI sebagai sarana
komunikasi antara pemerintah dengan rakyat, dan antara
rakyat dengan rakyat.
Sedangkan telepon pada masa itu
tidak terlalu penting sehingga anggaran pemerintah untuk membangun telekomunikasi pun
masih kecil jumlahnya. Saat itu, telepon
dikelola
oleh PTT (Perusahaan Telepon dan Telegrap) saja. Sampai pergantian rezim dari Orla ke Orba di tahun 1965,
RRI merupakan operator tunggal siaran radio di Indonesia.
Setelah itu bermunculan radio – radio siaran swasta. Lima tahun kemudian muncul PP NO. 55 tahun 1970 yang
mengatur tentang radio siaran non pemerintah.
Periode
awal tahun 1960-an merupakan masa suram bagi pertelekomunikasian Indonesia, para ahli teknologi
masih menggeluti teknologi sederhana dan “kuno”. Misalnya
saja, PTT masih menggunakan sentral-sentral telepon yang manual, teknik radio High Frequency ataupun
saluran kawat terbuka (Open Were Lines). Pada masa itu, banyak negara pemberi dana
untuk Indonesia – termasuk pendana untuk
pengembangan
telekomunikasi, menghentikan bantuannya. Hal itu karena semakin memburuknya situasi dan kondisi
ekonomi dan politi di Indonesia.
Tercatat
bahwa pada masa 1960-1967, hanya Jerman saja yang masih bersikap setia dan menaruh perhatian besar pada
bidang telekomunikasi Indonesia, dan
menyediakan
dana walau di masa-masa sulit sekalipun. Ketika itu pengembangan telekomunikasi masih difokuskan pada
pengadaan sentra telepon, baik untuk
komunikasi
lokal maupun jarak jauh, dan jaringan kabel. Indonesia saat itu belum memiliki satelit. Sentral telepon
beserta perlengkapan hubungan jarak jauh ini
diperoleh
dari Jerman. Pada saat itu, Indonesia hanya dapat membeli produk yang sama, dari perusahaan yang sama,
yakni Perusahaan Jerman. Tidak ada pilihan lain bagi
Indonesia.
Keleluasaan
barulah bisa dirasakan setelah di tahun 1967/1968 mengalir pinjaman-pinjaman ke Indonesia, baik bilateral
ataupun pinjaman multilateral dari Bank Dunia, melalui
pinjaman yang disepakati IGGI. Akan tetapi, pada masa inipun inovasi dalam pemfungsian teknologi
telekomunikasi masih belum berkembang dengan baik di negeri ini. Peda dasarnya kita
memberi dan memakai perlengkapan seperti switches, cables, carries yang sudah lazim
kita pakai sebelumnya.
·
Televisi
Badan
penyiaran televisi lahir tahun 1962 sebelum adanya satelit yang semula hanya dimaksudkan sebagai
perlengkapan bagi penyelenggara Asian Games IV di Jakarta.
Siaran percobaan pertama kali terjadi pada 17 Agustus 1962 yang menyiarkan upacara peringatan kemerdekaan RI
dari Istana Merdeka melalui microwave. Dan
pada
tanggal 24 Agustus 1962, TVRI bisa menyiarkan upacara pembukaan Asian Games, dan tanggal itu dinyatakan
sebagai hari jadi TVRI.
Terdorong
oleh inovasi, akhirnya pada tanggal 14 November 1962 untuk pertama kalinya TVRI memberanikan diri
melakukan siaran langsung dari studio yang
berukuran
9x11 meter dan tanpa akustik yang memadai. Acaranya terbatas, hanya berupa permainan piano tunggal oleh
B.J. Supriadi dengan pengaruh acara Alex Leo.
Lebih
setahun setelah siaran pertama, barulah keberadaan TVRI dijelaskan dengan pembentukan Yayasan TVRI melalui
Keppres No. 215/1963 tertanggal 20 oktober
1963.
Antara lain disebutkan bahwa TVRI menjadi alat hubungan masyarakat (mass communication
media) dalam pembangunan mental/spiritual dan fisik daripada Bangsa dan Negara Indonesia serta
pembentukan manusia sosialis Indonesia pada
khususnya.
Sampai
tahun 1989, TVRI merupakan operator tunggal di bidang penyiaran televise. Jadi sebelum satelit palapa
mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni
yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi
seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi
Kabel Laut) yang mahal dan sulit
dipergunakan.
b) Masa
Satelit
·
Satelit Domestik Palapa
Gagasan
tentang peluncuran satelit bagi telekomunikasi domestik di Indonesia bisa ditelusuri asal muasalnya dari sebuah
konferensi di Janewa tahun 1971 yang disebut
WARCST
(World Administrative Radio Confrence on Space Telecomunication).
Pada
konferensi itu di tampilkan pila pameran dari perusahaan raksasa pesawat terbang Hughes. Perusahaan inilah
yang mengusulkan ide pemanfaatan satelit bagi kepentingan
domestik Indonesia. Hal tersebut disambut oleh Suhardjono yang berlatar belakang militer dan membawa
masalah satelit itu sampai ke Presiden RI.
Selain
pertimbangan kelayakan ekonomi dan teknis, sejarah peluncuran satelit ini juga diwarnai oleh kepentingan politik
dimana hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lain sudah mulai bersahabat. Di
sisi lain, satelit memungkinkan penyebaran
luas
ideologi negara ke masyarakat luas melalui TV, satelit juga menguntungkan secara ekonomi.
Komunikasi
tentang cara-cara menggali sumber daya alam dapat berlangsung dengan mudah. Ini berlaku untuk kasus
tembaga pura (Freeport) dan di Dili. Peluncuran satelit
Palapa di Cape Canaveral, Florida, bulan Agustus 1976 pada panel peluncuran terdapat 3 orang Indonesia dan
perwakilan dari perusahaan NASA dan Hughes.
Kejadian
ini diresmikan juga melalui pidato kenegaraan oleh presiden Soeharto di Jakarta, tanggal 16 Agustus 1976.
ini merupakan satu- satunya proyek teknologi
yang mendapat tempat terhormat di gedung
Parlemen. Namun peluncuran satelit
itu merupakan kebijakan nasional yang gagasan
awalnya dicetuskan oleh pemerintah.
Hal
ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Indonesia pernah mengalami ancaman perpecahan. Untuk mempersatukan
tanah air yang sangat luas ini diperlukan sarana perhubungan
yang mencakup seluruh wilayah nusantara. Proses kelahiran satelit ini hanya melibatkan sedikit teknokrat
dan teknolog yang berpihak pada kepentingan
Orba.
·
Dampak Setelah Adanya Satelit
Palapa
Dengan
semakin bergantungnya Indonesia pada teknologi satelit, muncullah sejumlah perusahaan yang bergerak dalam
produksi perlengkapan terkait, seperti RFC (milik Iskandar
Alisjahbana), LEN (milik Kayatmo), PT. INTI. Setelah periode itu, aspek bisnis di dunia telekomunikasi
mencuat. Inovasi lebih banyak terjadi pada penyediaan layanan, sementara pengembangan
teknologi untuk komponen berkurang.
Pertumbuhan
ekonomi yang pesat di tahun 1988 membuat kebutuhan telekomunikasi melonjak secara drastis. Untuk
memenuhi kebutuhan telepon yang melonjak, disadari pemerintah perlunya perubahan
regulasi, yang kemudian membuahkan UU no. 3
tahun
1989 tentang pengertian telekomunikasi yang diperluas hingga mencakup alat pengiriman data seperti facsimile
dan telex, dan lain-lainnya.
Sebelum
lahirnya UU ini, Telkom dan Indosat disebut sebagai badan penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan
seluruh jejaring dan layanan jasa. Dampak positif dari
berlakunya UU tersebut adalah mulai masuknya pihak-pihak swasta dengan modal yang besar, walaupun dalam
skala usaha yang terbatas.
Mereka
datang dengan membawa teknologi baru, tenaga ahli, manajemen yang baru. Ini semua kemudian menciptakan
iklim usaha yang baru dalam penyelenggaraan
telekomunikasi
di Indonesia. Dengan terlibatnya pihak asing dalam pengadaan dana, teknologi dan menejemen,
perkembangan teknologi telekomunikasi berkembang dengan
pesat. Hal ini terjadi sekitar tahun 1990-an dan dampaknya terlihat mulai tahun 1991 khususnya terlihat jelas
bahwa jangkauan telekomunikasi di Indonesia
menjadi
bertambah luas.
Perkembangan
teknologipun berkembang pesat, mulai dari pesawat telepon manual ke otomatis, dan dari analog menjadi
digital. Pada gilirannya perkembangan ini menuntut adanya pengaturan infrastruktur dan
standarisasi peralatan. Tak lama kemudian
masuklah
teknologi mobile-telecommunication.
Berkembanglah
pemakaian handphone yang bardampak tumbuhnya usaha-usaha yang tidak hanya menyediakan layanan
atau jejaring saja, melainkan juga membangun
pabrik-pabrik
dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan kabel. Menarik untuk dicatat bahwa di era serbuan bisnis
telekomunikasi itu, ternyata kaidah dan aturan bisnis professional tidak sepenuhnya
diikuti.
Sementara
itu faktor politik tampaknya justru mengambil peranan penting. Kala itu terjadi campur tangan bisnis dari
“Keluarga Cendana” yang mengambil peranan
sebagai
mitra bisnis PT Telkom dan Indosat yang kemudian diikuti oleh krono-kroni mereka seperti Liem Sio Liong
melalui “Sinar Mas”- nya dan lain-lain. Di era emas telekomunikasi itu, tumbuh dorongan
kuat agar Bank Indonesia membuka pintunya
lebar-lebar
bagi pihak swasta asing.
Bahkan
mereka menginginkan adanya privatisasi Telkom dan Indosat dalam penyelenggaraannya. Dampak dari
dorongan ini mencuatnya pandangan bahwa
regulasi
yang ada sudah tidak memadai lagi. Di sekitar tahun 1996, mulailah disusun rencana untuk meninjau kembali UU
No. 3 tahun 1989.
Beberapa
hal yang diperhatikan dalam review ini adalah :
i.
Perkembangan teknologi tahun
1995-1996 itu berbeda sekali dengan di tahun
1990.
Ini terutama terjadi akibat konvergensi
teknologi, sebagai fungsi dari berbagai
jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa baru yang perlu diakomodasikan. Konvergensi
teknologi bahkan memungkinkan teknologi
dipadu
dengan broadcasting, sehingga timbullah telematika, teleinformatika, teknologi informasi dan lain-lain
yang menuntut kebijakan dan peraturan
yang baru.
ii.
Perkembangan teknologi informasi
dan broadcasting itu ternyata tidak hanya
berpengaruh pada masalah politik, dalam artian
berita, tetapi juga iklan yang sangat
berpengaruh dalamdunia bisnis. Lebih jauh lagi dengan Berkembangannya telebanking,
telekumunikasi sebelumnya
dilihat hanya sebagai public utility,
kini berubah menjad bisnis opportunity.
iii.
Globalisasi ekonomi menciptakan
suasana kompetisi yang semakin ketat. Ini
menuntut penyelenggaraan telekomunikasi
dengan kualitas layanan yang semakin
tinggi. Setelah satelit Palapa
mengorbit, jangkauan telekomunikasi
Indonesia
bisa meliputi seluruh nusantara, dan
bahkan
ke luar wilayah nusantara.
Satelit telekomunikas itu kemudian bisa dimanfaatkan bukan untuk telepon tetapi juga untuk berbagai
macam keperluan lain seperti, pengiriman facsimile, telex, dan pengiriman
berbagai informasi dalam bentuk lain
termasuk
broadcasting. Setelah
perkembangan itu semua terwujud, masyarakat
melihat
pentingnya peranan telekomunikasi bagi kehidupan suatu bangsa.
NUSANTARA 21
Perkembangan
satelit dipacu lebih lanjut dengan diresmikannya “Nusantara 21” (N21) oleh presiden RI pada tanggal 27
Desember 1996. Menggelindingnya N21 menjadi
masukan utama untuk pembentukan Tim
koordinasi Telematika Indonesia (TKTI)melalui Kepres No. 30 tahun 1997. Tugas TKTI menurut
Inpres No.6 tahun 2001 tentang
pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia adalah :
1.
Mengkoordinasikan perencanaan dan memelopori
program aksi dan inisiatif untuk
meningkatkan perkembangan dan pendayagunaan teknologi telematika Indonesia serta memfasilitasi dan
memantau pelaksanaannya,
2.
Memperkuat kemampuan menggalang sumber
daya yang ada di Indonesia guna
mendukung keberhasilan pelaksanaan semua arah pengembangan dan pendayagunaan teknologi telematika,
melaksanakan forum untuk membangun
consensus
antar pihak-pihak terkait di sector pemerintah dan swasta, serta akses mengakses pengalaman
internasional dalam mengembangkan sistem
infrastruktur
infomasi nasional.
Tim
ini diketuai oleh Menko Produksi Industri Strategis (Ginanjar Kartasasmita),
wakil ketua
Menparpostel, beranggotakan tujuh menteri departemen (Menkeu, Menhankam, Menpen, Mendagri,
Menperindag, Menaker, dan Mendikbud) serta lima menteri
negara (Mensesneg, Menristek, MenPAN, Menivest, Men-PPN). Visi N21 adalah menyediakan wahana
berbasis teknologi telekomunikasi dan
informatika
nasional di dalam proses transformasi bangsa Indonesia dari masyarakat tradisional (traditional society)
menjadi sebuah masyarakat yang berwawasan IPTEK dan
berbasis pengetahuan (knowledge based society). Konsep
N21 merupakan jawaban atas tantangan globalisasi komunikasi dan informasi berupa jaringan komunikasi terpadu.
N21 menggunakan kerangka pendekatan, antara
lain,
(a) Memanfaatkan semua teknologi yang dapat mendukung pembangunan di semua sektor; dan (b) membentuk
suatu jaringan maya informasi atau adi marga
informasi
(virtual information network atau anformation superhighway) yang menghubungkan seluruh pelosok tanah
air.
Dengan
dikembangkannya N21 maka pada tahun 2000 atau memasuki abad 21 seluruh kecamatan di Indonesia akan
mempunyai akses ke semua teknologi
komunikasi
dan computer (K-2) dalam suatu jaringan
terpadu yang didukung oleh 11 sistem
satelit komunikasi. Sekarang ini baru ada
tiga sistem satelit yang beroperasi,
yaitu
PSN dengan Palapa
1. telkom dengan Palapa B4 dan B 2R, dan satelindo dengan Palapa C 1 dan C 2. Pengembangan infrastruktur fiik
mengandung tiga kemungkinan penggunaan,
yaitu : (1) Adiguna Marga Kepulauan (Archipelagic Super Highway), (2) Kota Multimedia (Multimedia Cities); dan (3) Nusantara
Multimedia Community Acces
Centers ( Pusat Akses Masyarakat
Multimedia
Nusantara).
Tim
Koordinasi Telematika Nasional secara paripurna merumuskan cetk biru pengembangan telematika yang
mencakup tiga kelompok utama, yaitu infastruktur, aplikasi, dan sumber daya.
Infrastruktur
Menurut
Jonathan L.Parapak (Presiden komisaris PT.Indosat), perkembangan infrastruktur ini
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara
lain kebijakan nasional sector telekomunikasi, regulasi sector, kondisi ekonomi makro, kemampuan para pelaku
nasional. Pada tatanan kebijakan patut dicatat beberapa
kemajuan yang sangat penting, antara lain diundangkannya UU tentang Telekomunikasi no. 36 tahun 1999
dan dikeluarkannya cetak biru kebijaksanaan
tentang
telekomunikasi di Indonesia tanggal 20 Juli 1999.
Pada
tatanan r egulasi
telah dicapai beberapa perkembangan penting antara lain dimungkinkannya pern swasta dan
masyarakat yang semakin tinggi dalam
pengembangan regulasi yang telah terwujud dalam
penetapan tariff dan interkoneksi
standard,
dan lain-lain. Pada tatanan penyelenggaraan kondisi monopoli dan duopoli yang masih menghambat peran swasta dan masyarakat lebih besar,
keadaan ekonomi yang
baru tumbuh sangat mempengaruhi daya beli masyarakat.
Dalam
kondisi ini, kelihatannya sasaran pembangunan infrastuktur baik dimarga informasi, multimedia city akan
mengalami penundaan. Namun demikian
perlu dicatat bahwa PT.Telkom telah berupaya
membangun lingkar-lingkar adimarga kepulauan dan infrastruktur
multimedia di Jakarta. Infrastruktur informasi telah maju selangkah dengan beroperasinya
satelit Telkom 1.
Salah
satu aspek yang penting adalah pemanfaatan secara optimal infrastruktur yang ada. Tampaknya perlu dikembangkan
kebijaksanaan baik pada tingkat pemerintah
maupun pada tingkat penyelenggaraan agar
investasi yang telah dilakukan dapat
termanfaatkan dengan berdaya guna dan berhasil
guna bagi berbagai komponen masyarakat, baik pendidikan,
layanan kesehatan, pemerintahan maupun kegiatan bisnis.
Aplikasi
Telematika
Aplikasi
telematika Indonesia terfokus pada pemberdayaan aparatur negara, pemerkayaan hidup masyarakat
(telemedik, telekarya, pendidikan), penciptaan daya saing bisnis
(perbankan,pos,pariwisata,manfaktur), pembangunan informasi dasar dan aplikasi telematika perlu dilihat dari
tatanan kebijakan, regulasi, dan penyelenggaraan yang
di manfaatkan masyarakat.
Dari
sudut pandang kebijakan tampaknya belum terasa perkembangan yang menonjol. Isu kelembagaan masih banyak
diperbincangkan, UU yang terkait dengan atau
tentang telematika (cyber law) masih jauh
dari harapan. Beberapa aspek regulasi yang
mendesak, misalnya pengaturan secure
transaction, public ke infrastructure
registration
authority, electronic
payment, certification authority masih belum
dilaksanakan.
Namun,
perhatian pada perlindungan hak kekayaan intelektual semakin tinggi dan upaya untuk memantapkan regulasi
semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak. Di lapangan dapat dicatat perkembangan
yang menggembirakan dengan semakin
meluasnya homepage, berkembangnya aplikasi
seperti E-commerce, E-Banking, EBrokerage,
dan
lain lain.
Sektor
pemerintah nampaknya berkembang lamban karena kendala keuangan dan sumber daya manusia. Beberapa
kelompok usaha seperti PT. Telkom, Indosat, Lippo e
nett, nampaknya semakin giat untuk
mengejar ketertinggalan masyarakat kita di
bidang aplikasi.
Aplikasi seperti E-government, tele-education, telemedicine masih dalam taraf
mula yang perlu di dorong berbagai pihak.
Sumber Daya
Telematika
Dalam
bidang sumber daya , diarahkan pada pengembangan SDM, industri dalam negeri, hukum dan perdagangan,
serta kultur informasi. Secara umum dirasakan bahwa
SDM di dalam negeri belum memenuhi
harapan untuk berperan dalam pengembangan
teknologi yang
berubah begitu cepat.
Namun
demikian, cukup banyak pula SDM Indonesia di bidang telematika yang bekerja di luar negeri termasuk di
sentra-sentra keunggulan. Usaha berbagai pihak khusunya
sector swasta, nampaknya cukup menggembirakan antara lain dikembangkannya cyber campus seperti ITB, UPH, dan
lain-lain. Yang sangat memprihatinkan
adalah pengembangan industri
dalam negeri.
Walaupun
berbagi konsep telah cukup lama di bicarakan seperti Hightech Park di Bandung, Serpong dan lain-lain
sampai saat ini belum mencapai kemajuan berarti. Oleh karena itu perlu dikembangkan
kebijaksanaan nasional untuk mendorong
berkembangnya industri dalam negeri di bidang
telematika antara lain sistem insentif.
Dalam
mempromosikan visi N21, inisiasi perlu datang dari pemerintah. Namun secara bertahap dan interaktif, visi ini
perlu mengakomodasi kebutuhan yang khas dari
berbagai kelompok masyarakat maupun
departemen. Untuk itu keterlibatan berbagai
kelompokmasyarakat
dalam merumuskan dan mewujudkan program-program telematika perlu ditumbuhkembangkan secara
berangsur-angsur.
Hal
ini pada gilirannya akan membatasi peranan pemerintah, khususnya dalam hal
pengadaan dan
pengelolaan kandungan informasi. Control informasi dari pemerintah justru dipandang sebagai faktor penghambat
bagi upaya penyejahteraan masyarakat
melalui
jejaring telekomunikasi.
Peran Telematika
Berdasarkan
perkembangan telematika tersebut diatas, telematika di Indonesia memiliki tiga peran pokok, antara
lain :
1.
Mengoptimalkan
proses pembangunan. Telematika memberikan dukungan terhadap manajemen dan pelayanan
kepada masyarakat berupa sarana telekomunikasi
yang memuahkan masyarakat saling berinteraksi tanpa terhalang jarak. Dengan telematika,
proses komunikasi menjadi mudah sehingga
mudah pula untuk menyebarkan informasi dari satu daerah ke daerah lain.
2.
Meningkatkan Pendapatan.
Produk dan jasa teknologi telematika merupakan komoditas
yang memberikan peningkatan pendapatan bagi perseorangan, dunia usaha bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor jasa
dan produk industri
telematika.
3.
Pemersatu
bangsa. Teknologi telematika mampu menyatukan bangsa
melalui pengembangan sistem informasi yang
menghubungkan semua institusi dan
area
dengan cepat tanpa terhalang jarak daerah masing-masing.
Referensi :
- http://siraith.files.wordpress.com/2011/02/sejarah-telematika.pdf
Sejarah Perkembangan Telematika Di Indonesia
- Telematika…. Apaan Tuh?
Telematika adalah
istilah untuk mendefinisikan telekomunikasi melalui media informatika. berdasarkan
definisi di atas telematika sebenarnya
mencakup
dua teknik yaitu telekomunikasi dan informatika. Karena kekhususan penelitian dalam bidang
penelitian seperti Digital signal
processing,
Network programming, Managemen Telekomunikasi, Routing, security,
dll. Sentral telepon. router, switch, VolP dll. Interoperabilitas: pensinyalan, operating system dan
database. Fiber optics, Network performance dan Qos. Pengembangan
software, dll.
Telematika berasal dari
bahasa perancis “Telematique” yang merujuk pada bertemunya
sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Teknologi Informasi merujuk pada sarana prasarana,
sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan, pengolahan, penafsiran,
penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang bermakna.
Para praktisi
menyatakan bahwa “Telematics“ adalah singkatan dari “Telecommunication” and “informatics” sebagai wujud
dari perpaduan konsep Computing and
Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai “the new hybrid
technology” yang
lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini memicu
perkembangan teknologi
telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu (konvergensi). Semula media masih belum menjadi bagian
integral dari isu konvergensi teknologi informasi komunikasi
pada saat itu.
Belakangan baru
disadari bahwa penggunaan sistem komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghindarkan media
komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada perkembangan
konvergensi antara telekomunikasi, media dan
informatika
yang semula masing-masing berkembang secara terpisah.
Konvergensi Telematika
kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau “The Net”.
Dalam perkembangannya istilah “media” dalam Telematika berkembang menjadi wacana
“multimedia”. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah “multimedia” semula
hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk mengolah informasi dalam berbagai
medium. Adalah suatu ambigus jika istilah Telematika dipahami sebagai akronim
Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika.
Menurut instruksi
presiden RI no.6 tahun 2001 tentang kerangka kebijakan perkembangan dan pendayagunaan
telematika di Indonesia didapat pengertian telematika sebagai berikut : “…….
Telekomunikasi, media dan informatika atau disingkat sebagai teknologi telematika…”.
Alfin Toffler berpendapat
bahwa teknologi telekomunikasi dan informatika, kini populer dengan nama telematika
(Yuliar,2007). Menurut Yusuf Hadi Miarso (2007) telematika
merupakan sinergi teknologi telekomunikasi dan informatika untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem
binary (digital). Telekomunikasi adalah sistem hubungan jarak jauh yang terjalin melalui
saluran kabel dan nirkabel (gelombang suara,
elektromagnetik,
dan cahaya). Sedangkan informatika adalah pengelolaan data yang bermakna dengan sistem binary
(digital). Istilah Teknologi dan Komunikasi (ICT = Information and Communication
Technology) yang lebih dikenal sekarang ini bermaksud memperluas pengertian telematika.
Jadi, dapat disimpulkan
bahwa Telematika merupakan konvergensi antara teknologi Telekomunikasi , Media dan
Informatika yang digunakan untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem binary / digital.
- Pemanfaatan Telematika Di Bidang Pendidikan
Menurut Miarso (2004) terdapat sejumlah pilihan
alternatif pemanfaatan di bidang
pendidikan,
yaitu :
1.
Perpustakaan
Elektronik, Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan
di Bantu dengan teknologi informasi
dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan
yang pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The Library of
Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar
di dunia. Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di
akses melalui internet.
2.
Surat
Elektronik (email), Dengan aplikasi sederhana seperti
email maka seorang dosen, pengelola,
orang tua dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus mahasiswa yang
menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.
3. Ensiklopedia,
Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD ROM
untuk menampung ensiklopedia sehingga
diharapkan
ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tapi juga video, audio, tulisan dan
gambar, dan bahkan gerakan. Dan data informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga
telah mulai tersedia di internet. Sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat
diperbaharui.
4. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis
(digital), Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan
bahan belajar bagi warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para
guru SD yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi
masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang
dimiliki kantor pos yang menyediakan jasa internet.
5. Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh
dalam Cyber System, Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan
untuk memudahkan akses serta pertukaran data, pengalaman
dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini
diharapkan dapat menjangkau
serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan
serta kelangsungan kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan
formal maupun nonformal dalam suatu “cyber system”.
6. Pengelolaan Sistem Informasi,
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen
yang sebagian besar tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali sukar
untuk diakses, juga memerlukan tempat
penyimpanan
yang luas. Beberapa informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu dikembangkan
lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah
dikomunikasikan.
Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik (karena memuat
hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu sistem.
7. Video Teleconference,
Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia untuk dapat
berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat digunakan sebagai sarana
diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan pembelajaran
yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri dan kerjasama
yang bersifat sosial.
Banyak faktor yang mempengaruhi dilaksanakan atau tidaknya potensi teknologi telematika. Faktor utama, adalah adanya komitmen politik dari para pengambil kebijakan dan ketersediaan para tenaga terampil.
Referensi:
- http://www.scribd.com/doc/179599596/Pengertian-Telematika-doc
- http://karmila.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15747/Tayangan+Peng-Telematika.pdf
- http://siraith.files.wordpress.com/2011/02/sejarah-telematika.pdf
Telematika Beserta Pemanfaatannya Dalam Dunia Pendidikan
Mendengar kata surat yang muncul di kepala kita pasti adalah selembar kertas, yang di atasnya tertulis sebuah pesan yang ditujukan kepada seseorang dalam format yang khusus. Hampir setiap orang mengetahui dan pernah membuat sebuah surat.
Surat merupakan salah satu sarana untuk berkomunikasi secara tertulis untuk menyampaikan pesan dari pihak yang satu ke pihak yang lain baik secara perorangan atau kelompok. Sebagai suatu bentuk komunikasi tertulis, surat memiliki unsur yang ada di dalamnya, yaitu :
Surat merupakan salah satu sarana untuk berkomunikasi secara tertulis untuk menyampaikan pesan dari pihak yang satu ke pihak yang lain baik secara perorangan atau kelompok. Sebagai suatu bentuk komunikasi tertulis, surat memiliki unsur yang ada di dalamnya, yaitu :
- Pengirim, yaitu orang atau kelompok organisasi yang menyampaikan pesan.
- Pesan, yaitu isi surat berupa instruksi, informasi, perasaan pengirim, atau gagasan.
- Penerima yaitu orang atau organsiasi yang menerima pesan.
- Saluran, yaitu bagaimana pesan tersebut diformulasikan dalam ragam bahasa tulis dan disajikan dalam format yang sesuai dengan keperluan.
Jenis-jenis Surat
Surat memiliki banyak fungsi, maka dapat dikelompokkan atau digolongkan menurut jenisnya, yaitu :
A. Menurut kepentingan dan pengirimnya
- Surat pribadi, yaitu dikirimkan seseorang kepada orang lain atau kepada organisasi/lembaga. Kalau surat ditujukan kepada teman atau keluarga, format penulisan dan bahasa relatif bebas. Akan tetapi bila ditujukan kepada teman atau keluarga, format penulisan dan bahasa relatif bebas. Akan tetapi bila ditujukan kepada teman atau keluarga, format penulisan dan bahasa yang digunakan harus resmi, misalkan surat lamaran kerja, pengaduan, pengajuan mutasi, kenaikan pangkat, dsb.
- Surat dinas, yaitu digunakan instansi pemerintah untuk kepentingan administrasi pemerintahan.
- Surat niaga, yaitu dipergunakan oleh perusahaan atau badan usaha.
- Surat sosial, yaitu digunakan oleh organisasi kemasyarakatan yang bersifat nonprofit.
B. Menurut isinya
- Surat dapat dikelompokkan menjadi pemberitahuan, keputusan, pemerintah, panggilan, perjanjian, laporan, pengantar, peringatan, penawaran, pesanan, undangan dan lamaran pekerjaan.
C. Menurut sifatnya
- Biasa yaitu isi dapat diketahui oleh orang lain selain yang dituju.
- Terbatas (konfidensial) yaitu isi hanya boleh diketahui oleh kalangan tertentu yang terkait saja.
- Rahasia yaitu isinya hanya boleh diketahui oleh orang yang dituju.
D. Berdasarkan banyaknya sasaran
- Surat dapat dikelompokkan menjadi biasa, edaran dan pengumuman.
E. Berdasarkan tingkat kepentingan penyelesaiannya
- Surat terbagi atas biasa, kilat dan kilat khusus.
F. Berdasarkan wujudnya
- Surat terbagi atas bersampul, kartu pos, warkat pos, telegram, teleks, faksimile, memo dan nota.
G. Berdasarkan ruang lingkup sasarannya
- Surat terbagi atas intern dan ekstern.
Kemajuan teknologi memberi alternatif dalam menyampaikan pesn melalui internet seperti email (surat elektronik) ataupun handphone lewat sms. Tetapi surat konvensional tetap mempunyai arti penting sebagai bukti tertulis untuk berbagai macam keperluan. Sehingga jika terjadi sesuatu seperti kesalahan, surat dapat di jadikan acuan. Misalnya pada surat-surat perjanjian, surat waris, atau surat dinas.
![]() |
| Contoh Surat Dinas |
Riwayat Hidup (CV)
Curriculum vitae adalah deskripsi tertulis tentang pengalaman kerja anda, latar belakang pendidikan, dan keterampilan. Juga disebut CV, atau hanya vitae, itu lebih rinci dari resume dan umumnya digunakan oleh mereka yang mencari pekerjaan diluar negeri.
| Contoh Curriculum Vitae |
SURAT, DEFINISI DAN MACAM-MACAMNYA
Udah lama ga posting, giliran nulis pasti ada sebabnya kalo ga tugas yaa karena emang pengen dapet nilai bagus (sama aja kan -___-). Buat apa ilmu kalo cuma di pendem sendiri kan, ga akan berkah, jadi akhirnya memutuskan untuk nulis lagi Horeeey \m/. Pada penulisan kali ini, saya pengen membahas tentang apa itu analisis leksikal atau nama gaulnya disebut dengan Scanner. Loh yang ada di warnet itu? (jayus bet) bukan, bukan.. hayuk kita coba telaah apa dan implementasinya di dalam bahasa pemrograman. Saya coba bungkus materi ini seperti percakapan antara dosen dengan mahasiswanya, mudah-mudahan lebih mudah dimengerti dan dicerna oleh pikiran kalian para pembaca :).
Disini saya pilih bahasa Java karena saya berasal dari daerah jawa, tepatnya di tegal... laaah napa jadi curhat. langsung aja yuk cuuus!
M : Analisa leksikal, apa itu pak?
D : Sebelum membahas Analisa Leksikal, ada baiknya kalian mengetahui dulu tentang source code. Udah tau belom?
M : Ah si bapak, ditanya malah balik nanya -____- tau pak baris karakter terstruktur yang isinya kodingan itu kan?
D : Betul, 100 buat kamu. tulis nama dan npm di papan tulis yaa. Nah karakter dalam source code itu yang diubah oleh scanner (analisa leksikal) menjadi token-token.
M : Loh kok jadi kayak di lab sih pak, tapi biarin deh yang penting nilai *brb nulis nama*. masih bingung pak, token itu apa pak?
D : Token itu adalah komponen dasar leksikal dari program. Nah si scanner ini menerima masukan kode sumber berupa serangkaian karakter kemudian memilah-milahnya ke dalam satuan leksikal, yaitu si token itu loh.
M : *ngangguk-ngangguk* oh begitu yaa pak, terus token itu contohnya kaya gimana pak?
D : Contohnya ada banyak, diantaranya identifiers, keyword, operators, literals, punctuation, dll.
M : *bengong bingung* mohon maaf pak, ada cara yang lebih mudah buat jelasin masing-masing istilah tersebut? saya masih bingung >.<
D : oke bapak jelaskan, kamu udah pernah belajar bahasa java belum?
M : Pernah pak di lab semester 5 kemaren, emangnya kenapa pak?
D : Karena bapak akan coba jelaskan dengan mengambil contoh dalam bahasa java. Simak baik-baik yaa..
D : Coba kamu perhatikan source code sebuah program sederhana dalam bahasa Java berikut ini.
| Program Sederhana Menggunakan Bahasa JAVA |
D : Kamu perhatikan, yang mana termasuk variabel di dalam program itu?
M : hmm... universitas, tahun sama ajaran bukan pak?
D : Benar, nah darimana kamu tau semua itu adalah variabel?
M : *mikir garuk-garuk* ehm.. karena tidak termasuk dari kata yang sudah menjadi bagian dalam bahasa javanya pak
D : Nah, variabel adalah contoh dari sebuah identifier yaitu kata atau karakter yang bebas di rangkai oleh programmer asal tidak termasuk dari sebuah keyword dalam bahasa tersebut.
M : Berarti, fungsi / prosedur juga termasuk yaa pak dalam identifier?
D : Betul sekali! Sementara keyword adalah kata yang sudah menjadi bagian dalam bahasa Javanya seperti public, static, void, String, int, dll.
M : oooh begitu toh pak, paham paham. Terus kalo "gunadarma" itu apa dong pak disebutnya dalam analisa leksikal?
D : Kalo kata "gunadarma" tersebut merupakan nilai konstanta yang di sebut literals. Lain lagi dengan "+" dalam program tersebut disebutnya adalah operators.
M : Oh berarti setiap nilai konstanta itu literals yaa pak. Berarti "-", "*", "/" juga termasuk operators dong pak?
D : That's right, kamu cepet mengerti yaa bagus sekali. Nah sementara tanda ";" atau tanda yang wajib ada pada setiap baris dalam program Java di atas disebutnya adalah punctuation.
M : *malu-malu* oke saya sudah mengerti pak masing-masing dari istilah tersebut. terimakasih pak.
D : Loh loh ntar dulu, kamu mau nilai tambahan ga?
M : Mau dong pak, gimana caranya?
D : Coba kamu rangkum semua token-token dari program sederhana diatas, ke dalam bentuk tabel agar mudah dimengerti, bedakan di tabel sebelah kiri adalah nama tokennya, di kanan adalah contohnya dalam program tersebut. Bisa?
M : Bisa pak! sebentar yaa paak. Kira-kira begini bukan pak?
| TOKEN | CONTOH |
|---|---|
| Identifiers | universitas, tahun, ajaran, args |
| Keyword | public, class, static, void, main, String, int |
| Operators | "+" |
| Literals | gunadarma, 2010 |
| Punctuations | ";", ":", ",", "." |
D : Bagus sekali! kamu saya kasih nilai A, dan bebas quiz yaa. ehm.. siapa nama kamu?
M : Udin pak..
D : Tidak ada yang namanya udin disini, npm kamu berapa?
M : 12039024 pak.
D : *mencari* tidak ada disini, kamu salah kelas mungkin?
M : engga lah pak, ini mata kuliah teknik pemrograman terstruktur kan?
D : -___- kamu sepertinya kurang tidur, dan sedikit capek. Maaf ya, kamu tidak jadi dapet nilai dan bebas quiz.
M : Seketika bete :| *ngacir*
| Running program |
Analisis Leksikal Pada Bahasa Pemrograman Java
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)








